NUSAIBAH
BINTI KA’B RA
SANG
WANITA PERKASA
Adalah seorang ibu teladan yang bernama Nusaibah
binti ka’b RA, atau akrab dipanggil Ummu ‘Imarah. Ia sosok istri shalehah yang
penyayang, sosok ibu yang penuh kasih, dan pelopor kaum wanita dalam membela
Rasulullah SAW.
Hari
itu, Nusaibah mendengar gemuruh perang Uhud menggelegar. Hatinya bergetar. Segera
ia membangunkan suaminya yang tertidur.
“Suamiku,
pergilah ke medan uhud. Berjuanglah bersama Rasulullah SAW dan kaum Muslimin.
Allah selalu menyertaimu,” kata Nusaibah.
Mendengar ucapan istrinya, Zaid bin ‘Asyim
segera bangkit dan mempersiapkan pakaian perang. Dengan basmallah, ia pacu kudanya menuju medan Uhud. Nusaibah dan kedua
anaknya menunggu di rumah dengan perasaan cemas.
Tak
lama kemudian, datanglah seorang penunggang kuda di halaman rumahnya. Nusaibah
menemuinya bersama kedua anaknya.
“Wahai Nusaibah, Rasulullah SAW
mengirimkan salam untukmu. Beliau memintaku untuk mengabarkan padamu bahwa
suamimu telah gugur di medan Uhud,” kata utusan itu.
Nusaibah menunduk. Air matanya mengalir.
Namun ia adalah wanita yang tabah.
“Inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un.. Alhamdulillah, ya Allah, Engkau syahidkan
suamiku,” kata Nusaibah.
Setelah utusan itu pergi, Nusaibah
benar-benar menangis.
“Engkau bersedih, Bu?” Tanya anak
pertamanya.
“Ibu tidak bersedih, Nak. Namun ibu tak
punya siapa-siapa lagi untuk ibu berangkatkan ke medan perang. Maukah engkau
berjuang bersama Rasulullah SAW?”
Anak pertama Nusaibah berbinar-binar. Rupanya
dalam hati ia pun ingin turut berjuang.
“Baik, Ibu. Berjuang bersama Rasulullah
SAW sudah lama aku rindukan. Doakanlah aku.”
Maka Nusaibah melepas anak pertamanya
dengan perasaan gelisah. Tak henti-hentinya bibirnya melafalkan zikir agar
Allah melindunginya.
Tak lama kemudian, dating lagi seorang
utusan. Hati Nusaibah berdebar, ia tahu kabar apa yang hendak ia terima.
“Wahai utusan, apakah engkau hendak
menyampaikan kabar bahwa anakku telah syahid?” Tanya Nusaibah.
“Ya, Nusaibah.”
“Inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un.. Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah
syahidkan anak pertamaku,” kata Nusaibah.
Sepeninggal utusan itu, Nusaibah
menangis kembali.
“Apa yang ibu tangisis? Apakah ibu
bersedih?” Tanya anak kedua Nusaibah.
“Tidak, Nak. Ibu gembira. Ibu menangis
karena tak ada lagi yang dapat ibu kirim untuk berjuang bersama Rasulullah SAW.”
“Bukankah masih ada aku, Ibu?”
“Kau masih terlalu kecil, Anakku,” jawab
Nusaibah.
“Ibu jangan remehkan aku. Ridhailah aku,
Ibu. Izinkan aku bergabung bersama pasukan Rasulullah SAW,” kata anak kedua Nusaibah.
Maka berangkatlah anak kedua Nusaibah ke
medan perang. Nusaibah melepaskannya dengan lambaian tangan. Tak lama kemudian,
seorang utusan datang kembali. Nusaibah tahu kabar apa yang hendak ia terima.
“Apakah anak keduaku telah syahid, hai
utusan?” Tanya Nusaibah.
“Ya,” jawab utusan itu.
“Inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un.. Alhamdulillah Ya Allah, Engkau telah
syahidkan anak keduaku. Izinkan aku turun ke medan jihad” kata Nusaibah.
“Tapi engkau seorang wanita, hai Nusaibah.”
Kata utusan itu.
“Jangan meremehkan perempuan. Kamipun ingin
berjuang bersama Rasulullah SAW,” jawab Nusaibah.
Utusan itu pun mengizinkan. Ia kembali
ke medan Uhud bersama Nusaibah yang lihai menunggang kuda. Di medan Uhud,
Rasulullah SAW menugaskan Nusaibah untuk member minum dan mengobati kaum Muslimin
yang terluka. Namun, ketika melihat kaum muslimin terdesak dan Rasulullah SAW
terkepung, ia tampil sebagai perisai beliau hingga tubuhnya menderita 12 luka.
Rasulullah SAW bersabda, yang artinya, “Tidaklah aku melihat ke kanan dan kiri pada
pertempuran Uhud, kecuali aku melihat Nusaibah binti Ka’b berperang membelaku.”
Selepas Rasulullah SAW wafat, Nusaibah
tetap turut berperang. Dalam perang Yamamah melawan Musailamah, tangannya
terpotong hingga ia dibawa pulang sebelum perang usai. Nusaibah binti Ka’b RA
dan keluarganya mendapatkan kabar gembira kelak menjadi pendamping Rasulullah
SAW di surge. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar