ULAR DAN BUKTI
CINTA ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ RA
Kekejaman kaum Quraisy
makin menjadi. Mereka menyiksa orang-orang Makkah yang memeluk Islam. Betapa pedih
Muhammad al-Musthofa melihat umat Muslimin berkalang duka. Hatinya pedih
menyaksikan darah dan bilur-bilur luka. Intimidasi terhadap beliau pun terus mereka
lakukan karena tak rela Islam menggeser agama moyang mereka. Rencana pembunuhan
terhadap Rasulullah SAW telah disusun matang. Namun, Allah SWT menyelamatkan
hamba terkasih-Nya dengan perintah hijrah.
Malam itu, Rasulullah
SAW dan seorang sahabat setia berhasil menyelusup di antara gerombolan pemuda
Quraisy yang hendak membunuh beliau. Keduanya menyusuri jalanan terjal dan
gurun Arabia yang tandus.
…
Nama
aslinya adalah Abdullah bin Abu Quhafah. Ia mendapat gelar ash-Shiddiq dari
Rasulullah SAW lantaran termasuk orang yang pertama kali mempercayai Isra
Mikraj. Abu bakar adalah khalifah yang pertama. Ia sahabat Rasulullah SAW
sekaligus ayah mertua beliau, karena ia adalah ayah dari Aisyah RA. Abu bakar
sangat mencintai Rasulullah SAW dan rela mengorbankan nyawanya demi tegaknya
agama Islam. Iapun termasuk salah satu dari orang-orang yang pertama memeluk
agama Islam dan telah mendapatkan kabar gembira kelak menjadi penghuni surga (as-Sabiqunal Awwalun).
Demi
menghindari kejaran para pemuda Quraisy yang hendak mencelakai Rasulullah SAW,
keduanya bersembunyi di Gua Tsur. Dalam kepekatan malam, Abu Bakar dan
Rasulullah SAW mendengar derap kaki para pemuda Quraisy di atas dinding
bebatuan Gua Tsur. Abu Bakar sangat mencemaskan Rasulullah SAW. Rasul mulia itu
tak boleh terluka, apalagi terbunuh. Siapakah nantinya penyampai pesan Allah
SWT kepada seluruh umat jika beliau tiada? Siapakah cahaya bersinar yang akan
menerangi kegelapan dunia, jika bukan dirinya?
“Wahai
Rasulullah, hanya kita berdua di tempat ini. Andai mereka melihat kearah kaki
mereka, niscaya mereka akan menemukan kita,” keluhannya.
“Sesungguhnya
kita tidak berdua saja, Abu Bakar. Ada Allah SWT yang menjaga kita,” jawab
Rasulullah SAW. Mendengar jawaban beliau, hati Abu Bakar menjadi tenang.
Abu
Bakar dan Rasulullah SAW sepakat berjaga bergantian. Rasulullah SAW tidur
terlebih dahulu di pangkuan Abu Bakar. Ketika beliau tidur, Abu Bakar mendengar
desisan ular berbisa mendekati kakinya. Ia ingin sekali beringsut, namun tidak
tega jika membuat Rasulullah SAW terbangun. Ular berbisa itu pun menggigit kaki
Abu Bakar.
Dalam
waktu singkat, bisa ular itu mulai menjalar ke tubuh Abu Bakar. Keringat dinginnya
mengucur. Tubuhnya menggigil. Abu Bakar menangis menahan rasa sakit. Air matanya
menetes ke pipi Rasulullah SAW. Air mata yang mengalir kesejukan cinta itu
membuat beliau terbangun.
“Kenapa
kau menangis, Abu Bakar? Apakah engkau menyesal karena menyertaiku? Tanya Rasulullah
SAW.
“Bukan.
Tadi seekor ular mematuk kakiku, wahai Rasul. Dan bisanya menjalar ke tubuhku
hingga terasa sakit sekali,” jawab Abu Bakar terbata-bata.
“Masya
Allah, kenapa engkau tidak menghindarinya?” Tanya Rasulullah SAW.
“Aku
tidak ingin membuat engkau terbangun,” jawab Abu Bakar.
Mendengar
jawaban Abu Bakar, Rasulullah SAW merasa terharu. Beliau tersanjung melihat
cinta Abu Bakar yang amat besar.
“Aku
sangat bahagia memiliki seorang sahabat sepertimu, Abu Quhafah,” kata
Rasulullah SAW.
Dengan
penuh kasih sayang, Rasulullah SAW memegang pergelangan kaki Abu Bakar. Beliau mengobati
luka itu dengan air ludahnya. Atas izin Allah SWT, luka bekas gigitan ular itu
lenyap seketika. Abu Bakar pun terbebasa dari rasa sakit.
Malampun
semakin larut. Kaum kafir tak terdengar lagi derap kakinya di atas dinding gua.
Tiada lagi kecuali zikir dedaunan dan selimut malam.
“Tidurlah
di pangkuanku, wahai Abu Quhafah!” kata Rasulullah SAW.
“Tidak,
wahai Rasulullah. Aku tidak akan membebani pangkuanmu denganku,” jawab Abu
Bakar. Ia memilih tidur tanpa alas di lantai Gua Tsur yang dingin. Subhanallah. Semoga bukti cintamu
membawamu pada derajat mulia, wahai sahabat mulia.
Abu
bakar RA meninggal pada tahun 634 M di Madinah. Ia dimakamkan di samping makam
kekasihnya, Rasulullah SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar