RUMAISHAH BINTI MILHAN RA
PEMILIK MAHAR TERMAHAL
Abu
Thalhah mondar-mandir di ruang tengah rumahnya yang megah. Rasanya ia tak
percaya ditolak oleh sorang perempuan. Apakah yang kurang darinya? Tubuhnya
tegap, wajahnya tampan, dan hartanya banyak. Jika wanita lain yang ia lamar,
mungkin nasibnya akan berbeda. Tapi Abu Thalhah terlanjur terpesona olehnya. Ia
terus memikirkan kata-kata wanita itu. Semakin ia memikirkannya, semakin ia
ingin melakukannya.
Dalam
hati, kepada berhala sembahannya mulai goyah. Berhala-berhala itu ia buat
sendiri dari kayu. Sisa kayu itu bahkan digunakan oleh istrinya untuk memasak.
Bagaimana mungkin benda mati yang tidak bias berbuat apa-apa itu adalah Tuhan?
...
Rumaisha
binti Milhan dikenal pulan dengan nama Ummu Sulaim. Ia adalah seorang wanita
yang terkenal cerdas, baik hati, bijaksana, dan juga berparas cantik. Suaminya
adalah Malik bin Nadhir. Dari pernikahan itu lahirlah Anas bin Malik.
Ketika
Rasulullah SAW mengenalkan Islam, Rumaishah termasuk wanita yang pertama-tama
masuk Islam. Ia mengucapkan syahadat saat suaminya bepergian. Saat suaminya
pulang, Ummu Sulaim mendapatkan murka. Malik bin Nadhir lantas meninggalkan
istrinya dalam keadaan marah dan tak lama kemudian meninggal.
Sepeninggalan
suaminya, Ummu Sulaim sepenuhnya mendidik anaknya untuk mendalami Islam.
Bahkan, ia menitipkan Anas kepada Rasulullah SAW agar dijadikan murid sekaligus
membantu beliau dalam setiap urusan. Hasilnya, kelak Anas bin Malik menjadi
seorang sahabat yang meriwayatkan banyak hadist.
Berita
tentang kecerdasan Anas bin Malik dan ibunya yang hebat tersebar ke mana-mana.
Seorang bangsawan kaya raya bernama Abu Thalhah turut tertarik kepadanya. Ia
juga dikenal sebagai penunggang kuda dan pemanah yang handal. Abu Thalhah
datang melamar Ummu Sulaim dengan membawa mahar yang banyak.
“Wahai
Ummu Sulaim, maukah engkau menjadi istriku?” Tanya Abu Thalhah.
“Abu
Thalhah, siapakah wanita yang akan menolak laki-laki sepetimu? Tapi aku tidak
dapat menerimamu karena engkau tidak beriman.” Jawab Ummu Sulaim.
“Apakah
engkau menginginkan emas dan perak hingga menolakku?” Tanya Abu Thalhah.
“Demi
Allah! Aku tidak membutuhkan emas dan perak. Jika engkau adalah seorang Muslim,
tentu aku akan menerimamu. Hanya itulah mahar yang aku inginkan darimu. Aku
tidak meminta yang lain!” tegas Ummu Sulaim.
Abu
Thalhah terdiam. Ia merasa bimbang. Selama ini iya meyakini tuhannya adalah
berhala-berhala. Tak mudah baginya menerima ajaran-ajaran Rasulullah SAW.
“Wahai
Abu Thalhah, apa yang engkau ragukan? Mengapa engkau menyembah berhala-berhala
yang engkau buat sendiri? Tinggalkanlah mereka dan sembahlah Allah SWT!” kata
Ummu Sulaim lagi.
Tak
seorangpun sanggup mengahalangi datangnya hidayah ke dalam hati hambanya, pun
Abu Thalhah. Rasa cintanya kepada Ummu Sulaim menjadi lantaran tersingkapnya
tabir kegelapan yang menutupi jiwa Abu Thalhah. Ia datang menghadap Rasulullah
SAW dan mengucapkan kalimat syahadat. Seperti janjinya, Ummu Sulaim menerimanya
sebagai suami setelahnya.
Kepada
anaknya, Anas bin Malik, ummu Sulaim berkata, “ Wahai Anas, nikahkanlah ibumu
dengan Abu Thalhah.” Anas menikahkan ibunya dengan perasaan bahagia. Kaum
muslimin yang mengetahui pernikahan itu berkata, “Tidak ada wanita yang
memiliki mahar lebih mahal daripada Ummu Sulaim, karena ia menjadikan Islam
sebagai maharnya.”
Ummu
Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Pernikahannya dengan Abu
Thalhah menghasilkan Sembilan orang cucu yang semuanya huffazh (penghafal Al-Qur’an). Keteguhan
Ummu Sulaim mempertahankan imannya mendapat ganti yang sepadan dari Allah SWT.
Ketika Rasulullah SAW berjalan-jalan di surge, beliau mendengar suara langkah
kaki. Langkah kaki itu adalah milik Ummu Sulaim RA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar