Jodohku, di mana dirimu?

10/2 – 2018

Sumber: ceramah ustadz Ust. Bendri Jaisyurrahman


Jodohku, di mana dirimu?


Pendekatan tauhid >< pendekatan zodiak, bahwa Allah sudah menciptakan kita beserta jodohnya sejak 50rb tahun yg lalu. Allah berfirman dalam salah satu suratnya, Wa Kholaqnakum azwaja (Q.S. an-naba : 8), "Dan telah Kami ciptakan kamu berpasang-pasangan." , masalahnya mengapa belum bertemu? Apa karena kita belum mencarinya? Atau karena Allah sengaja menghalangi akan sesuatu yg disebabkan karena memang belum waktunya atau karena ada penghalang jodoh itu tiba.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda:
“Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah ‘azza wa jalla atau karena Islam kemudian keduanya dipisahkan (bermusuhan) kecuali karena dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya”. [Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Bukhariy: Sahih]
Nabi adam dan sayyidati hawa, yang pada awalnya sudah dijodohkan oleh Allah lalu dpisahkan. Dosanya yaitu salah makan buah yang Allah larang atasnya. Sewaktu dikirm pertama kali ke dunia mereka menjadi jomblo. Adam berada di India, dan Hawa di Arafah. Mereka dipersatukan kembali setelah terpisah selama 40 thn, ada riwayat lain yang mengatakan 80 tahun. *Jadi jika antum menjadi jomblo selama beberapa tahun, ya jangan sedih karena penghulu kalianpun lebih lama jomblonya :v. Ketika Adam dan Hawa sadar, mereka menjadi jomblo “terpisah”, doanya nabi adam bukan meminta jodoh dan dipersatukan kembali, tp 'Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin' (QS. Al A'raf 7 : 23) , Artinya : Ya Allah , kami telah mendholimi pada diri kami sendiri, jika tidak engkau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami menjadi orang yang rugi. Karena mrka yakin mreka akan bertmu ktika sama2 bersih. Hikmah: ketika jodoh kita belum bertmu, mungkin karena salah 1 diantara kita blm brsih. Solusinya, ktika mau mnikah ya taubat bareng, karena ketika memulai berumah tangga dalam keadaan sama sama kotor, maka akan timbul malapetaka baru dikehidupan kelak.
Ketika kita sedang ingin mencari jodoh kita, lakukanlah intopeksi diri : adakah dosa dlm diri kita yang akan menghalangi bertemunya kita dengan jodoh kita?, terutama dosa dari makanan serta rizki yg masuk kedalam diri kita, karena bagaimana mungkin doa kita dikabulkan oleh Allah jika didalam tubuh kita banyak terdapat makanan makanan yg haram, serta pakaian kitapun haram. Evaluasi juga hub. Kita dgn ortu kita, adakah ganjalan di hati ortu yang sudah bertahun tahun? Bisa jadi kita tanpa sadar mengucapkan kalimat pada ortu kita yang menghalangi jodoh itu datang. Ex: al qomah yg sakaratul mautnya tersiksa ketika ia mendahulukan isterinya dibanding ibunya, yang membuat ibunya tidak ridho padanya. *Hirup pikuk kesuksesan kita ada pada orang tua kita, selama yang diminta orang tua kita sesuai dengan apa yang rasulullah saw ajarkan, ya ikuti saja setiap keinginan ortu kita, akan tetapi jika bertentangan, tolaklah dengan cara yang na'ruf.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Tidaklah dua orang saling mengasihi karena Allah atau karena Islam, lalu keduanya berpisah, melainkan pasti disebabkan oleh dosa yang dilakukan salah seorang diantara keduanya.” (Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (2508), Mawaarid) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).
*Jodoh, adalah bagaimana mentarbiyah diri agar mendapatkan yang terbaik dari Allah, itu adalah tugas kita. Jika sudah dihadapkan pada pilihan, maka istikhorohkanlah: "aku memohon dengan ilmu-Mu, memohon ketetapan dengan kuasa-Mu."
Rumus mencari jodoh itu simpel, penuhi hak Allah terlebih dahulu nanti Allah akan memenuhi hak mu. Dikisahkan bahwa Abu bakar meminta anaknya bercerai, setelah masing2 memperbaiki hubungan dgn Allah setahun lagi mereka menikah lagi.
Abdullah bin Abu Bakar RA baru saja melangsungkan pernikahan dengan Atikah binti Zaid, seorang wanita cantik rupawan dan berbudi luhur. Dia seorang wanita berakhlak mulia, berfikiran cemerlang dan berkedudukan tinggi. Pastilah Abdullah amat mencintai istri yang sangat sempurna menurut pandangan manusia.
Pada suatu hari, ayahnya Abu Bakar RA lewat di rumah Abdullah ingin mengajak pergi bersama-sama sholat berjamaah di Masjid. Namun, beliau mendapati anaknya sedang bermesraan dengan Atikah dengan lembut dan romantis sekali, beliau membatalkan niatnya dan meneruskan perjalanan ke Masjid.
Setelah selesai menunaikan sholat, Abu Bakar RA sekali lagi melalui jalan di rumah anaknya. Alangkah kesalnya Abu Bakar RA ketika mendapati anaknya masih bersenda gurau dengan istrinya sebagaimana sebelum beliau menunaikan sholat di Masjid.
Selain lalai dari menunaikan shalat, Abdullah pun lalai dalam perniagaan yang dimilikinya, ia terlalu larut dalam cinta dan bersenda gurau dengan istrinya sehingga melupakan hal lain dalam hidupnya.
Kecantikan dan keluhuran pribadi Atikah benar-benar menyihir hati Abdullah. Menyita seluruh jiwanya. Menyandera seutuh akalnya. Hari-harinya hanya mengagumi Atikah. Kecantikannya, jelitanya, dan adab mulianya.
“Ia (Atikah) menyibukkannya(Abdullah) dari perang-perangnya,” kata Imam Ibnu Hajar membicarakan biografi Atikah.
Jika cinta telah mulai berubah menjadi diktator dan mulai terlihat angkuh. Memaksa untuk hanya dia yang diperhatikan dan dipedulikan. Bahkan memaksa untuk melupakan berbagai kewajiban hidup. Maka ia harus ditegur.
Dan Abu Bakar sang ayah pun menegurnya. "Wahai Abdullah, adakah kamu sholat berjama'ah?"
Tanpa berhujjah panjang Abu Bakar berkata: "Wahai Abdullah, Atikah telah melalaikan kamu dari kehidupan dan pandangan hidup malah dia juga telah melupakan kamu dari sholat fardhu, ceraikanlah dia!"
Lalu bagaimana tanggapan Abdullah? Tanpa membuat dalih apalagi mencoba membunuh diri, Abdullah terus mengikuti perintah ayahandanya dan menceraikan istri yang cantik dan amat dicintainya. Subhanallah!
Namun setelah itu, Abdullah sangat gundah. Setiap guratan kegundahannya dituangkan dalam untaian syair.
Mendengar syair tersebut, serta melihat anaknya yang berubah menjadi kurus dan lemah serta kehilangan semangat, Abu Bakar pun luluh. Setiap kata Abdullah mengundang simpati Abu Bakar. Ayah bijak itu mengizinkan anaknya untuk kembali ke istrinya.
Setelah bersatu kembali, Abdullah dan Atikah menyadari bahwa cinta pada Allah harus lebih besar daripada cinta mereka. Abdullah kemudian mengikuti peperangan bersama Rasulullah, dan menjadi syuhada di medan jihad.
Demikianlah kisah pasutri yang saling mencintai, namun kemudian menyadari Hak Allah yang tidak boleh mereka lalaikan atas nama cinta.
Hikmah: Ketika mempunyai masalah, jgn berfokus utk mencari solusi tapi meminta ampun terlebih dahulu dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Di kisahkan nabi yunus as, ketika ia masuk kedalam perut ikan paus, nabi Yunus tidak meminta untuk dikeluarkan dari perut ikan paus, tapi yang ia lakukan ialah berdoa memohon ampun pada Allah
Laa ilaaha illa anta. Subhaanaka, innii kuntu minaz zhaalimiin , “Tiada Tuhan melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau (daripada melakukan aniaya, tolongkanlah daku)! Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri”.(QS Al-Anbiya’ : 87).
Inti doa itu menghinakan diri dan meninggikan Allah. Allah akan memberikan jodoh pada kita disaat yang tepat, agar pernikahan itu memberikan manfaat ketika kita sudah mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan kebermanfaatan pernikahan itu.
Membuktikan dihadapan Allah bahwa kita benar benar pantas, di kisahkan bahwa nabi zakaria pernah mengasuh keponakannya yaitu mariam, setelah nabi zakaria membuktikan pada Allah bahwa ia mampu mengasuh mariam menjadi wanita terbaik, lalu Allah menganugerahi nabi zakaria anak, yaitu yahya.
Ia berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai". Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia. Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua". Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali". (QS Maryam ayat 4-9).
*Untuk wanita, bisa dimulai dengan belajar memasak, tidak harus bisa memasak segala macam masakan, karena kita ingin membangun rumah tangga bukan rumah makan, tapi setidaknya masak yang dasar2 mah bisa, bisa membedakan lengkuas dan jahe --p, dan dengan masakan itu akan menjadikan magnet bagi suami dan anak agar betah dirumah. Wanitapun harus punya rasa cemburu, ketika suami atau anaknya lebih memilih makan di luar dengan delivery order atau warung ketimbang makan di rumah, seperti dikisahkan oleh aisyah r.a pernah membanting piring yang berisi makanan saat rasulullah saw diberikan makanan oleh wanita lain.
Setidaknya menguasai skill skill lain sebelum menikah, misalnya tahu 3 area privat yang membuat seseorang mudah bercerita: tangan, perut dan punggung. Laki2 harus menjadi pendengar yg. Baik bagi wanita. Ada sebuah Riset di jerman, jika lawan bicara wanita tidk memberikan respon setelah ia banyak bercerita, maka ia akan mwmberi feedback "repeat me".. Jk wnta tdk mendaparkan saluran bicara yg tepat "suami" maka akan mncari saluran yg lain, jika lawan yang diajak bicara isteri itu baik, dan memberikan solusi yang tepat, jika tidak? Nah loh..
Memantaskan dirilah dgn tdk berkeluh kesah. Lalu bagi calon suami, harus membuktikan diri bahwa ia benar-benar ingin menikahi akhwat tersebut dengan mendatangi walinya. Harus gentle dan berani, tunjukan bahwa kita benar-benar mampu menjadi imamnya.
Nabi yakub ketika dtg bersilaturahmi ke pamannya laban di padang aram (irak), Sesampainya di Fadang Aram, Nabi Ya’qub menyampaikan pesan ayahnya agar dia menikahi anak perempuan pamannya yang bernama Rahil. Pamannya menyetujui dengan syarat Nabi Ya’qub harus bekerja dengannya selama tujuh tahun. Setelah tujuh tahun pertama bekerja, Nabi Ya’qub diminta menikahi anaknya yang pertama yaitu Layya. Karena pada tradisi masyarakan sana, makruh hukumnya jika menikahi anak nomor 2 sementara anak yang pertama belum menikah. Llau setujulah nabi yakub menikah dengan Layya, setelah menikah nabi yakub meminta pamannya untuk menikahinya dengan Rahil, namun pamannya meminta nabi yakub untuk bekerja kembali kepadanya selama 7 tahun. Pada tujuh tahun kedua bekerja dengan pamannya, Nabi Ya’qub menikahi anak kedua pamannya yang bernama Rahil. Pada saat itu hukum menikahi dua perempuan kakak beradik belum dilarang dalam agama. Dari hasil pernikahannya, Nabi Ya’qub memperoleh dua belas  orang anak. Diantaranya  adalah Nabi Yusuf dan Bunyamin.
Allah swt menyebut beberapa kali tentang Nabi Ya’qub, salah satunya ada dalam Surat Shaad ayat 45-47. Allah menyebut Nabi Ya’qub termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.

Ketika nabi adam mencari hawa, hawa diam dan adam yg mencari tp masing2 ttp berdoa dengan doa 'Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin' (QS. Al A'raf 7 : 23).
* Lalu ustadz bendri bercerita mengenai kisah pernikahannya, yang hari ini bertemu ayahnya akhwat, lalu esoknya langsung akad sementara walimahnya menunggu persiapan, yang penting sah dulu. gak ribet kan? karena yang ribet itu hanya tradisi dan gengsi, yang islam ajarkan  itu sudah sangat mudah.

Demikianlah sedikit pesan yang bisa disampaikan, jika ada kekurangan dalam penulisan, semata-mata karena kekhilafan dari saya pribadi, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages