PERLUNYA MENUNTUT ILMU

PERLUNYA MENUNTUT ILMU


"Mau kemana, Mbak?"
"Ke Cairo, Pak"
"Oo, liburan?"
"Nggak, kuliah"
"Ambil jurusan apa?"
"Agama"
"Oo, ngapain jauh-jauh buang-buang ongkos ke Cairo cuma buat belajar agama, Mbak? Emang nanti di Indonesia mau jd apa? Orientasinya kemana? Belajar agama yo skrg gampang tinggal baca di google."
Dan aku cuma bisa senyum semanis-manisnya https://z-1-static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v6/f4f/1/16/1f601.png😁
Belajar agama ga sesimple cuma seputar ini halal dan itu haram atau malah tinggal copas dari google lalu tinggal menghafal teks.
Bahaya. Yang ada bukannya mashlahah tp bisa jd musibah. Karena dalil-dalil tdk bisa dipahami dgn hanya membacanya sekali lalu dihukumi maksudnya sendiri.
Belajar agama butuh waktu bertahun-tahun bahkan sampai akhir hayat. Butuh guru dan panduan yg tepat. Butuh pembelajaran yg benar2 matang. Butuh menguras waktu, tenaga dan pikiran untuk bisa mengerti. Bahkan waktu seumur hidup nggak akan cukup untuk mempelajari luasnya ilmu agama.
Karena tanggung jawab ilmu agama bukan hanya sebatas duniawi, tapi jg ukhrowi. Bukan hanya sebatas untuk bisa menerapkan ibadah, tapi jg untuk menerapkan mashlahah. Bukan cuma berusaha untuk mencari gelar, tapi jg berusaha mencari jalan yg benar.
Jadilah apapun di dunia ini sesuai dgn cita-cita kita dan kehendak Allah. Karena yg terpenting adalah manfaat apa yg bisa kita hasilkan dr serangkaian pelajaran hidup yg Allah berikan https://z-1-static.xx.fbcdn.net/images/emoji.php/v6/f4c/1/16/1f642.png:)

*curhatan seorang santriwati ponpes
Memang benar, saat ini hampir seluruh informasi yang ada di dunia tersedia di mesin pencaharian google, hanya tinggal mengetik apa yang kita inginkan, langsung muncul informasi tersebut. Fungsinya sama seperti halnya kantong doraemon –p. Hanya saja, setiap informasi yang ada di internet belum tentu dapat kita percayai kebenarannya, apalagi yang jika sumbernya belum jelas.
“Apa yang kita dengar dan apa kita lihat bukan merupakan arti dari seluruh kebenarannya”.
Ini adalah zamannya ghazwul fikri (perang pemikiran) merupakan strategi perang selain perang fisik, face to face. Kenapa muncul strategi ini? Perang fisik tentu saja menguras SDM yang tidak sedikit, belum taruhannya nyawa. Ongkos perang fisik juga sangat mahal, disamping dampak kerusakannya yang luar biasa besar. Tapi ghazwul fikri, sasaran targetnya bisa dalam jumlah besar. Bahkan bisa mendunia kalau tujuannya memang globalisasi dilakukan dengan cara yang masif pula. Dampak ghazwul fikri juga bisa terasa oleh berbagai generasi (lebih dari satu generasi), dan mencakup berbagai lapisan masyarakat. Salah satu target mereka ialah wanita, melalui 3F (food, fun, fashion). Wanita sengaja dirusak karena tatkala mereka merusak wanita, mereka telah merusak sendi-sendi kaum muslimin. Kaum wanita mendominasi secara jumlah dan mendominasi secara sifat. Maka jumlah mereka lebih banyak dan juga sifat mereka yang emosional senantiasa mewarnai seluruh hal di media sosial. Wanita juga mempunyai dampak yang besar terhadap para lelaki dan anak-anak mereka, oleh karena itu jika wanita rusak, maka generasi selanjutnya-pun akan rusak pula.
Perlu sekali kita mendalami Islam dengan benar dan dari guru yang benar. Islam bisa kita ibaratkan sebagai sistem immune dalam tubuh kita. Jika sistem immune kita baik, maka segala macam bakteri maupun virus yang masuk, akan kita tangkis dan kendalikan. Namun, jika immune kita lemah, maka tubuh dan jiwa kitapun akan rusak.
Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).

Jika kita melakukan ibadah shalat, namun dengan shalat itu kita masih saja berbohong, berzinah, dan melakukan hal dzolim lainnya, maka itu pertanda ada yang salah dalam shalat kita. Mari kita perbaiki ibadah shalat kita, dari cara berwudhu hingga berdoa sesudah shalat yang sesuai tuntunan Rasulullah SAW tentunya.
Dewasa kini, banyak sekali orang-orang yang berdebat dan menyebut orang lain telah melakukan perbuatan bid’ah hanya karena perbedaan dalam gerakan shalat. Menyebut orang lain bid’ah itu sama halnya kita telah mengkafirkan orang itu. Orang non muslim saja, jika kita sebut kafir mereka akan merasa terhina dan marah, apalagi jika orang Islam yang kita sebut kafir.
Hadist bismillah dalam pembacaan surat al-Fatihah saja ada kurang lebih 70 hadist, dan cara baca dari Rasulullah SAW ada 4, bisa di jahr kan, bias dissir kan, bisa tidak dibaca sama sekali, dan bisa dibaca hanya pada saat rakaat pertama dan untuk selanjutnya tidak.
1.      Penganut mazhab Syafi’i (asy syafi’iyyah): Basmalah termasuk ayat dari surat al Fatihah. Maka hukumnya wajib membaca basmalah diawal surat al fatihah, sehingga wajib dibaca keras dalam shalat jahr dan dibaca pelan dalam shalat sirr.
2.      Penganut mazhab Hanafi (al hanafiyyah): Basmalah dibaca secara pelan diawal surat al Fatihah setiap shalat fardlu, baik dalam shalat sirr (zuhur dan ’ashar) atau shalat jahr (maghrib, isya’ dan subuh). Sebab basmalah tidak termasuk ayat dalam surat al Fatihah dan surat-surat lainnya dalam al Qur’an al Karim meskipun ia termasuk bagian dari ayat-ayat dalam al Qur’an
3.      Penganut mazhab Maliki (al malikiyyah): Hukumnya makruh membaca basmalah diawal surat al Fatihah dalam shalat fardhu, baik shalat sirr atau shalat jahr. Sedangkan dalam shalat sunnah hukumnya boleh membaca basmalah diawal surat al Fatihah 
4.      Penganut mazhab Hanbali (al hanabilah): Hukumnya sunnah membaca basmalah diawal surat al fatihah secara pelan, baik dalam shalat sirr atau shalat jahr. Sebab basmalah tidak termasuk ayat dari surat al Fatihah.

Ketika memilih salah 1 diantara 4 contoh itu maka disebut mahdzab / pilihan. Missal jika memilih pendapat pertama, maka dinamakan mahdzab imam as syafii (pilihan imam as syafii bukan pendapat atau aliran imam as syafii). Di Negara arab, madinah, Pakistan, india, libia, dll mereka menggunakan 1 mahzab di negaranya masing-masing, jadi dari kecil hingga seterusnya mereka hanya belajar mahdzab yang sama agar tidak bingung. Sedangkan di Indonesia, banyak yang belajar ke berbagai daerah di Negara lain jadi Indonesia memiliki beraneka ragam gerakan dalam shalat, karena belajar dari berbagai mahdzab dari guru-guru yang berbeda pula.
Perlunya bagi kita untuk banyak belajar ilmu agama dari guru dan panduan yang tepat agar kita tidak mudah untuk mengatakan orang tersebut bid’ah. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk memilah-milah informasi.

Sumber:
Cholil Nafis
Ceramah Ustadz Adi Hidayat LC mengenai perbedaan mahdzab:\ https://www.youtube.com/watch?v=FsLxnVXwPZk&t=932s
Ceramah ustadz Felix Siauw mengenai 3F
      Tsabitah Naqiyah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages