PERLUNYA MENUNTUT ILMU
"Mau
kemana, Mbak?"
"Ke Cairo, Pak"
"Oo, liburan?"
"Nggak, kuliah"
"Ambil jurusan apa?"
"Agama"
"Ke Cairo, Pak"
"Oo, liburan?"
"Nggak, kuliah"
"Ambil jurusan apa?"
"Agama"
"Oo,
ngapain jauh-jauh buang-buang ongkos ke Cairo cuma buat belajar agama, Mbak?
Emang nanti di Indonesia mau jd apa? Orientasinya kemana? Belajar agama yo skrg
gampang tinggal baca di google."
Dan aku cuma bisa senyum
semanis-manisnya
😁
Belajar agama ga sesimple cuma seputar ini halal dan itu
haram atau malah tinggal copas dari google lalu tinggal menghafal teks.
Bahaya. Yang ada bukannya mashlahah tp bisa jd musibah.
Karena dalil-dalil tdk bisa dipahami dgn hanya membacanya sekali lalu dihukumi
maksudnya sendiri.
Belajar agama butuh waktu bertahun-tahun bahkan sampai
akhir hayat. Butuh guru dan panduan yg tepat. Butuh pembelajaran yg benar2
matang. Butuh menguras waktu, tenaga dan pikiran untuk bisa mengerti. Bahkan
waktu seumur hidup nggak akan cukup untuk mempelajari luasnya ilmu agama.
Karena tanggung jawab ilmu agama bukan hanya sebatas
duniawi, tapi jg ukhrowi. Bukan hanya sebatas untuk bisa menerapkan ibadah,
tapi jg untuk menerapkan mashlahah. Bukan cuma berusaha untuk mencari gelar,
tapi jg berusaha mencari jalan yg benar.
Jadilah apapun di dunia ini
sesuai dgn cita-cita kita dan kehendak Allah. Karena yg terpenting adalah
manfaat apa yg bisa kita hasilkan dr serangkaian pelajaran hidup yg Allah
berikan
:)
*curhatan
seorang santriwati ponpes
Memang
benar, saat ini hampir seluruh informasi yang ada di dunia tersedia di mesin
pencaharian google, hanya tinggal mengetik apa yang kita inginkan, langsung
muncul informasi tersebut. Fungsinya sama seperti halnya kantong doraemon –p.
Hanya saja, setiap informasi yang ada di internet belum tentu dapat kita
percayai kebenarannya, apalagi yang jika sumbernya belum jelas.
“Apa
yang kita dengar dan apa kita lihat bukan merupakan arti dari seluruh
kebenarannya”.
Ini
adalah zamannya ghazwul fikri
(perang pemikiran) merupakan strategi perang selain perang fisik, face
to face. Kenapa muncul strategi ini? Perang fisik tentu saja menguras SDM
yang tidak sedikit, belum taruhannya nyawa. Ongkos perang fisik juga sangat
mahal, disamping dampak kerusakannya yang luar biasa besar. Tapi ghazwul
fikri, sasaran targetnya bisa dalam jumlah besar. Bahkan bisa mendunia
kalau tujuannya memang globalisasi dilakukan dengan cara yang masif pula.
Dampak ghazwul fikri juga bisa terasa oleh berbagai generasi
(lebih dari satu generasi), dan mencakup berbagai lapisan masyarakat. Salah satu target mereka ialah wanita, melalui 3F (food, fun, fashion). Wanita sengaja
dirusak karena tatkala mereka merusak wanita, mereka telah merusak sendi-sendi
kaum muslimin. Kaum wanita mendominasi secara jumlah dan mendominasi secara sifat. Maka jumlah mereka lebih banyak dan
juga sifat mereka yang emosional senantiasa mewarnai seluruh hal di media sosial.
Wanita juga mempunyai dampak yang besar terhadap para lelaki dan anak-anak
mereka, oleh karena itu jika wanita rusak, maka generasi selanjutnya-pun akan
rusak pula.
Perlu
sekali kita mendalami Islam dengan benar dan dari guru yang benar. Islam bisa kita
ibaratkan sebagai sistem immune dalam
tubuh kita. Jika sistem immune kita
baik, maka segala macam bakteri maupun virus yang masuk, akan kita tangkis dan
kendalikan. Namun, jika immune kita
lemah, maka tubuh dan jiwa kitapun akan rusak.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).
Jika kita melakukan ibadah shalat, namun dengan shalat itu kita masih saja berbohong, berzinah, dan melakukan hal dzolim lainnya, maka itu pertanda ada yang salah dalam shalat kita. Mari kita perbaiki ibadah shalat kita, dari cara berwudhu hingga berdoa sesudah shalat yang sesuai tuntunan Rasulullah SAW tentunya.
Dewasa
kini, banyak sekali orang-orang yang berdebat dan menyebut orang lain telah
melakukan perbuatan bid’ah hanya karena perbedaan dalam gerakan shalat. Menyebut
orang lain bid’ah itu sama halnya kita telah mengkafirkan orang itu. Orang non
muslim saja, jika kita sebut kafir mereka akan merasa terhina dan marah,
apalagi jika orang Islam yang kita sebut kafir.
Hadist
bismillah dalam pembacaan surat al-Fatihah saja ada kurang lebih 70 hadist, dan
cara baca dari Rasulullah SAW ada 4, bisa di jahr kan, bias dissir kan, bisa tidak
dibaca sama sekali, dan bisa dibaca hanya pada saat rakaat pertama dan untuk
selanjutnya tidak.
1. Penganut
mazhab Syafi’i (asy syafi’iyyah): Basmalah termasuk ayat dari surat al Fatihah.
Maka hukumnya wajib membaca basmalah diawal surat al fatihah, sehingga wajib
dibaca keras dalam shalat jahr dan dibaca pelan dalam shalat sirr.
2. Penganut
mazhab Hanafi (al hanafiyyah): Basmalah dibaca secara pelan diawal surat al
Fatihah setiap shalat fardlu, baik dalam shalat sirr (zuhur dan ’ashar) atau
shalat jahr (maghrib, isya’ dan subuh). Sebab basmalah tidak termasuk ayat
dalam surat al Fatihah dan surat-surat lainnya dalam al Qur’an al Karim meskipun
ia termasuk bagian dari ayat-ayat dalam al Qur’an
3. Penganut
mazhab Maliki (al malikiyyah): Hukumnya makruh membaca basmalah diawal surat al
Fatihah dalam shalat fardhu, baik shalat sirr atau shalat jahr. Sedangkan dalam
shalat sunnah hukumnya boleh membaca basmalah diawal surat al Fatihah
4. Penganut
mazhab Hanbali (al hanabilah): Hukumnya sunnah membaca basmalah diawal surat al
fatihah secara pelan, baik dalam shalat sirr atau shalat jahr. Sebab basmalah
tidak termasuk ayat dari surat al Fatihah.
Ketika memilih salah 1 diantara 4
contoh itu maka disebut mahdzab / pilihan. Missal jika memilih pendapat
pertama, maka dinamakan mahdzab imam as syafii (pilihan imam as syafii bukan pendapat
atau aliran imam as syafii). Di Negara
arab, madinah, Pakistan, india, libia, dll mereka menggunakan 1 mahzab di
negaranya masing-masing, jadi dari kecil hingga seterusnya mereka hanya belajar
mahdzab yang sama agar tidak bingung. Sedangkan di Indonesia, banyak yang
belajar ke berbagai daerah di Negara lain jadi Indonesia memiliki beraneka
ragam gerakan dalam shalat, karena belajar dari berbagai mahdzab dari guru-guru
yang berbeda pula.
Perlunya bagi kita untuk banyak
belajar ilmu agama dari guru dan panduan yang tepat agar kita tidak mudah untuk
mengatakan orang tersebut bid’ah. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita
untuk memilah-milah informasi.
Sumber:
Cholil Nafis
Ceramah Ustadz Adi Hidayat LC mengenai perbedaan mahdzab:\ https://www.youtube.com/watch?v=FsLxnVXwPZk&t=932s
Ceramah ustadz Felix Siauw mengenai 3F
Tsabitah Naqiyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar