ZAID BIN HARITSAH RA BERBUKA BERSAMA BIDADARI

ZAID BIN HARITSAH RA BERBUKA BERSAMA BIDADARI


“Selamat dating, wahai Zaid bin Haritsah. Salam ‘alaika. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu, mengabulkan doa-doamu, dan memberikan berkah-Nya kepadamu.” Zaid masih terdiam. Dua orang yang menyambutnya begitu ramah kepadanya. Ia diperlakukan dengan sangat hormat.
“Ikutlah dengan kami, hai Zaid.”
Zaid menurut. Ia mengikuti ke mana dua orang itu melangkah. Mereka menunjukkan kepadanya tempat yang belum penah ia temui. Tempat itu sungguh indah. Gemercik air terdengar mendamaikan hati. Taman-taman terhampar luas penuh bunga berwarna-warni. Angin bertiup sepoi-sepoi menebarkan aroma dahan dan daun. Zaid merasa betah berada di sana.
Zaid bin Haritsah terpaku ketika dua orang itu behenti di depan sebuah kamar. Pelan-pelan Zaid masuk. Di atas ranjang yang terbungkus sutra bersulam emas, duduk seorang perempuan. Ia tersenyum kepada Zaid. Wajahnya cantik, sangat cantik. Selama hidupnya belum pernah Zaid menemui wanita secantik itu. Matanya sebening telaga. Kulitnya putih dan selembut susu. Gaun indah dikenakannya bahkan tak sanggup menyamarkan kulitnya yang bercahaya.
“Di manakah aku?” Tanya Zaid.
“Engkau berada di surga, wahai Zaid,” jawab wanita cantik itu. Zaid terpukau mendengar merdu suaranya.
“Lalu, siapakah engkau?” Tanya Zaid kembali.
“Aku adalah istrimu. Istrimu untuk selamanya. Sudah lama aku menunggumu di sini,” jawab wanita itu sembari tersenyum.
Jantung Zaid berdegup kencang. Semuanya masih serupa mimpi baginya. Benarkah wanita cantik itu istrinya? Zaid mendekat dan hendak menyentuhnya.
“Jangan dulu wahai Zaid. Sekarang belum saatnya. Engkau harus kembali ke dunia. Insya Allah tiga malam lagi kita akan berbuka bersama,” sergah wanita itu.
“Semalam. Semalam saja, jangan tiga malam lagi,” kata Zaid. “semuanya sudah ditentukan, wahai Zaid,” kata wanita itu sembari bangkit dari ranjang. Zaid tersentak dan segera menjauh.
“Allahu akbaru, walhamdulillah, wa la illaha illallah!”
“Zaid! Ada apa denganmu?”
Keringat Zaid berleleran. Wajahnya pucat pasi.
“Aku baru saja bermimpi, Hisyam. Mimpi yang aneh.”
“Ceritakanlah padaku tentang mimpimu!”
Zaid pun menceritakan mimpi yang baru saja ia alami.
Pada saat itu, kaum Muslimin sedang berperang melawan bangsa Romawi di bawah impinan Maslamah bin Abdul Malik.
Zaid bin Haritsah turut berperang. Zaid adalah sahabat Rasulullah SAW yang memiliki postur tubuh pendek, kulitnya cokelat kemerahan, berhidung pesek, dan berperawakan sedang. Awalnya, ia adalah budak Siti Khadijah. Setlah Siti Khadijah menikah dengan Rasulullah SAW, ia dibebaskan dan diangkat menjadi anak oleh beliau. Zaid adalah satu-satunya sahabat yang namanya tercantum dalam Al-Qur’an, yakni di surat Al-Ahzab. Ia juga termasuk orang-orang yang pertama kali masuk islam (As-Sabiqunal Awwalun).
Zaid bin Haritsah dikenal rajin membaca Al-Quran, shalat malam, dan berpuasa. Semua orang mengenal Zaid sebagai ahli ibadah, siang hai ia berpuasa, malam hari ia memperbanyak shalat.
Malam itu, Zaid mendapat giliran berjaga bersama sahabatnya, Hisyam bin Yahya. Hisyam meminta Zaid untuk tidur terlebih dahulu. Zaid pun tidur di sebelah Hisyam. Setelah tidur beberapa lama, Hisyam melihat Zaid mengigau. Zaid berbicara dan tertawa-tawa, lalu tangan kanannya bergerak seolah hendak menyentuh sesuatu, kemudian ia tarik kembali. Zaid berkata, “semalam. semalam.” Kemudian Zaid tergegap bangun dan membaca takbir, tahmid, dan tahlil.
“Masya Allah. Engkau beruntung, Sahabatku. Allah telah menunjukkan kepadamu nikmat-nikmat yang hendak ia berikan,” kata Hisyam setelah Zaid menceritakan mipinya.
“Hisyam, rahasiakan mimpiku ini kepada siapapun, kecuali jika aku telah syahid,” pinta Zaid.
“Baiklah Zaid, aku berjanji padamu.”
Keesokan harinya, Zaid berperang kembali. Ia tetap berpuasa meskipun berada di medan perang. Saat malam hari, ia habiskan waktu untuk shalat dan menangis kepada Allah SWT. Hingga tibalah pada hari ketiga, Zaid terkepung musuh. Hisyam yang melihatnya dari kejauhan tak mampu berbuat banyak karena ia sendiripun menghadapi musuh.
Menjelang matahari terbenam, sseorang musuh berhasil melesatkan anak panahnya dan tepat mengenai tenggorokannya Zaid bin Haritsah. Pemuda itupun jatuh tersungkur. Hisyam segera berlari dari kerumunan musuh dan mendekatinya.
“Selamat atas buka puasamu di surge mala mini, Sahabatku,” kata Hisyam dengan air mata menetes. “Seandainya aku bias bersamamu, aku akan ikut ke sana.”
      Zaid tesenyum kepada sahabatnya. Pelan-pelan ia berkata, “Segala puji bagi Allah yang menepati janjinya kepada hamba-hamba-Nya.”

      Maka, pada petang hari Jumadil Awal 8 H, pahlawan Islam Zaid bin Haritsah RA syahid dalam perang Mu’tah, dalam usia 55 tahun. Allah SWT memenuhi janji-Nya untuk sang syahid. Ia meninggalkan dunia untuk menempati istananya dan berbuka puasa bersama istrinya di surge. Selamanya…

1 komentar:

  1. Top 10 Casino in Largest Largest Range of Las Vegas
    If you're looking for some 통영 출장마사지 exciting casino action, 순천 출장마사지 you want to know which one is right for you. At Casino Las Vegas, 충주 출장샵 you 안동 출장마사지 can play the games you 파주 출장안마 love

    BalasHapus

Pages